"Nun,
demi pena dan apa yang mereka tulis" (Al-Qalam:1)
Oleh: Pizaro
Mahasiswa Bimbingan dan Penyuluhan Islam
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Gedung Fakultas Dakwah dan
Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tampak tinggi menjulang, bergaya
timur tengah, begitu indah di pandang mata. Di sini mahasiswa terlihat
lalu-lalang mengejar waktu yang memburu. Sebagian masih asyik bersenda gurau di
basement kantin, ada yang baca koran, berdiskusi, menyiapkan acara di masing-masing
BEM, atau sekedar duduk melepas penat. Sedangkan Leni dan Riri asyik menyeruput
jus sirsak pesanan di kantin.
Mahasiswa yang terkenal aktif di
BEMJ Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) ini, juga terkenal aktif memburu
berita percintaan di kalangan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, bahkan majalah
Jeda pernah ingin memakainya, maklum Ratu Gosip. Ketika ada kabar yang belum
tentu kebenarannya, iya justru sudah mensosialisasikan ke setiap jengkal
kampus. Walaupun kerap salah dan informasinya merugikan orang lain, ia tidak
juga kapok. Ya namanya berita kadang benar kadang salah, begitu gumamnya.
Hari ini benar-benar ada berita
heboh yang akan menggelegar, seorang akhwat kedapatan berduaan dengan seorang
cowok. Leni yang menyebar kabar itu. Tak pelak, ia yang begitu mengagumi
seniornya ini yang terkenal cantik dan berkepribadian menarik, langsung luntur
dalam bayangan teladannya.
“Eh Riri, Masya Allah, Gue
benar-benar gak nyangka Ri. Ka Ica yang begitu gua kagumi sosoknya. Ah gua
benar-benar gak bisa ngomong Ri?”
“Slow dong Man…. Slow…, Ada apa
Len, kamu mah bikin aku penasaran aja”
Leni geleng-geleng kepala, mulutnya
terasa tertutup rapat untuk menghembuskan barang satu kata pun. “Oh My God..”
“Lho emang kenapa sih Len?”
“Gua harap lo jangan kaget atas
apa yang gua lihat tadi?"
Riri mengangguk..
“Gua baru aja pengen ke kamar
mandi lantai 7”
“Yang deket Turki Corner itu?”
Potong Riri
“That’s it!! Gua lihat sekilas
Kak Ica lagi berduaan sama seorang cowok?”
“Ah biasa aja kali, mungkin ada
keperluan kali, lagipula juga lo lihatnya sekilas”
Leni menggebrak meja dengan
emosional dan berkata “Eh masih mending kalau berduaan aja, ini pake
pegang-pegangan tangan, eh emang gua gak lihat jelas muka cowoknya, tapi itu
tetap cowok.”
“Astaghfirullah aladzim, sumpeh
Lo?”
Leni mengangguk kecewa.
Keesokan harinya….
Ka Ica yang terkenal berkepribadian
santun di seantero UIN Jakarta, sedang bersiap-siap menuju kampus, ia kunci
rapat kamar kosnya. Tasnya sangat berat, karena di dalamnya terselib buku
History of Arabs karangan Phillip Kitti.
“Sini aku yang bawa sayang”
ucap seorang cowok berperawakan sedang. Di depan kos mereka menangkring motor
Honda tahun 80an.
“Ah tidak usah, aku aja yang
bawa, kamu langsung aja balik, gak enak nanti dilihat banyak orang”
“Ya sudah malam minggu Ukhti ada
di rumah kan? Aku apel ya?”
“Iya dong say, kan sudah jatah
kamu mulai saat ini?” belay Ka Ica pada pipi sang cowok berkulit sawo
mentah.
“Hmm kita nonton apa Ukh?”
“Ayat-ayat Cinta aja oke?”
“Oke deh..” ucap pasang cowok
sambil memakai jaket hitam.
Leni dan Riri yang hobinya nonton
detektif Konan, ternyata bersembunyi di balik Rental Ijul yang tak jauh
berjarak dari kost Kak Ica, yang sering disebut “Gua Hira” karena tempatnya
nyempil.
“Lailahailallah, Laknatullah
benar-benar Ukh Ica, ternyata apa katamu benar Ri. Aku gak habis pikir”
“Ssssstttt, entar kita ketahuan,
Lo diam aja dulu. Gua udah siapain kamera untuk merekam ini semua”
“Hehe.. gak percuma kamu ikut
seminar sehari inteligensi di Ushuluddin”
“Kayaknya cowoknya Ikhwan juga?”
“Ah kalo Ikhwan moralnya begitu,
sorry lah yau..”
“Eh kayak Kak Pizaro ya?”
“Ah lo ada-ada aja, dia kan di
rumah, lagi ngerjain revisi pusing katanya. Jadi deh dia katanya iseng nulis
cerpen. Lagian kak Piza itu kan gemuk, lha cowok yang ini badannya
sedang-sedang melentung gitu.”
“Iya tuh sombong banget ya Kak
Piza, jarang ke kampus lagi. Gak asyik”
“Huush kok jadi ngomongin dia”
Kaki Riri yang mencoba mundur tak
sengaja menginjak batang kayu yang mulai reot.
“Guuubbrrraakkk..!!”
Mata Kak Ica spontan mengikuti arah
suara yang mengagetkan.
Riri dan Lani panik kalang kabut,
mereka cepat-cepat memepet tubuh hingga balik tembok.
Kak Ica menghampiri sumber suara,
radiusnya sekitar 7 meter saja dari kost. Ia berjalan cepat karena takut ada
apa-apa, atau mungkin maling motor yang marak di Ciputat. Ia celingak-celinguk.
Matanya terus mendekati tubuh Leni dan Riri yang semakin berlindung di balik
dinding rapuh.
Leni dan Riri, sama-sama menahan
suara agar tidak kecium Kak Ica. Namun Leni yang lebih kacau, ia ingin sekali
bersin, karena hidungnya kemasukan debu dari kayu reot yang patah.
Jari Riri sesekali mencubit paha
Leni agar menahan bersinnya.
Kak Ica mendekati ke mereka, langkah
gontai semakin jelas terdengar.
Riri begitu kencang mencubit Leni.
Kalau cubitan yang ini, murni karena Riri sangat tegang.
Dan…. “Hay kak, lagi ngapain?”
Tanya Ijul yang muncul dari Rental komputernya
“Eh Ijul.. oya gimana ketikan
Kakak udah beres?” selidik Kak Ica
“Dikit lagi kak, ini tinggal
ngerjain SPSS-nya aja?” jawab Ijul
“Iya itu jul, Kak Ica gak dapet
SPSS-nya, sudah Tanya ke AIDA katanya juga lagi error”
“Yeh santai aja lagi kak, temen
Ijul di Ekonomi punya kok?” Gumam Ijul
“Syukron ya Jul. Oya Jul kakak
buru-buru nih mau ke kampus, ada janji sama teman bikin proposal FKM BPI”
“Tapi entar dulu kak, oya Sekolah
Psikologinya jadi gak entar malam?”
“Insya Allah, kamu sudah dua kali
gak ikutan lho, yee… curang”
“Pematerinya siapa kak?
”Kak Jawa, sekarang masuk bahasan
Sheldon”
“Insya Allah deh kak dateng”
“ÓK aku tunggu lho, kalau gak aku
hipnotis”
“Hehehe galak amat, dimemori
Quantum aja kak”
“Afwan”
Leni dan Riri masih bersembunyi di
balik tembok. Kaki mereka mulai gemetaran, Tangan Riri bak diikat, karena
sedari tadi menyumpal mulut Leni. Ketika Kak Ica pergi barulah mereka tenang.
Dan “Haahaahsssssyyyyyyyyyiiimmmm” Bersin Leni menggelegar.
Hari ini UIN terasa sumpek, hari
kamis. Seperti biasa banyak sekali seminar dan kegiatan mahasiswa, Stan-stan
ramai bergeletak di parkir SC. Dari mulai menawarkan kegiatan pengisi jiwa
seperti training mahasiswa, jualan bunga lengkap dengan potnya demi menyambut
penghijauan, sampai bazar-bazar buku yang harganya turun total. Ica coba
mampir, ia dengan serius membolak-balik buku Sybill edisi lama yang bersampul
biru.
Semenit berlalu, gentian ia sambangi
temannya yang menjaga stan, Dela namanya. Dela kebagian menjaga stan TOEFL yang
diselenggarakan UKM Bahasa Flat. Ia terlibat pembicaraan serius. Dari kejauhan
terlihat Dela berusaha menahan tawa, ia tutup bibir kecilnya dengan tangan.
Senyum menyeringai menyiratkan ada sesuatu kelucuan mendera.
Sedangkan Leni dan Riri berusaha
mengejar lift. “Wait…wait..”
“Ih Si Leni buru-buru amat“
sergah Rangga.
“Eh gua mau ngomong sama lo”
“Ngomong apa Len”
“Gawat… ini gawat”
“Ih Si Leni gawat apanya?”
Tanya Rangga, senior BPI yang terkenal alim
Leni menceritakan panjang lebar
kejadian yang membuatnya curiga bahwa Kak Ica mulai berani berdua-duaan sampai
pegangan mesra sama cowok. Baginya perbuatan Kak Ica itu mencoreng nama baik
BPI. Ia tidak mau nama BPI tergores. Apa jadinya kata dunia ada mahasiswi alim
di BPI yang kumpul kebo. Lagipula apa jadinya mahasiswi yang populis sebagai
“artis peradaban” tidak tahan terhadap belaian pria.
Rangga didera shock theraphy.
Jantungnya bedegup atas cerita Leni. Ia sangat tidak menyangka, atas tingkah
nista Ica tersebut. Leni benar-benar berhasil menyihir Rangga.
Lift sampai lantai 5, seorang
mahasiswa masuk. Wajahnya bersih, tampan, dan berpenampilan rapih. Sontak ia
berhadapan dengan Leni yang tepat berdiri di depan lift. Leni bergeser.
Matanya mulai nakal, ia perhatikan
sesekali sang mahasiswa. Dalam hati Leni berkata “Masya Allah cucok juga nih
cowok”.
Di sisi lain, isu percintaan Kak Ica
sudah menyebar ke seluruh mahasiswa BPI. Dari mulai semester satu, tiga, lima,
tujuh, dan sembilan. Bahkan beberapa dosen dan kajur kebagian infonya. Ini
semata-mata karena Kak Ica memang bak seleb di BPI. Jadilah informasi cinta Kak
Ica pasti laku bak kacang goreng. Beberapa orang masih penasaran. Mereka
mencoba mengklarifikasi ini ke Ica, namun HP Ica tidak aktif, kost Gua Hira-nya
juga terkunci kuat dengan dua gembok.
****
Hari ini Forsik digelar, para
peserta tumplek ruah megisi Ruang 5.01 di lantai 5. Pembicara belum juga
kelihatan batang hidungnya. Namun entah kenapa Leni punya rencana lain, ia
datang ke Forsik untuk memberi bukti skandal. Ia siapkan rekaman itu, apalagi
diskusi Forsik kerap memakai infokus. So Leni ingin menyiapkan kejutan.
Akan tetapi Leni agak kesal, Kak Ica
ternyata tidak ikut Forsik. Beberapa teman-teman BPI juga kecewa Ica tidak
datang. Padahal kedatangan Ica begitu ditunggu untuk menjelaskan lelucon dari
perbuatannya selama ini.
Di kursi belakang, bukannya serius
untuk mendengarkan Forsik, tapi ia malah sibuk memikirkan situasi Kak Ica
berada saat ini. Ketika melamun, pembicara datang dengan mengenakan jas coklat
muda. Materi kali ini tentang Konseling Profetik.
Ketika pembicara duduk di depan,
sontak Leni tidak mengira “Oh My God inikan cowok yang tadi satu lift”.
Ah Leni tidak bisa menahan pandangannya. Ia tatap lekat-lekat wajah pria tampan
itu; sejuk, ramah senyum, rapih, dan bersih. Ah beruntung sekali wanita yang
dipinangnya.
Ia menelan ludah, ada gurat cinta di
hatinya. Yup cinta pada pandangan pertama. Tutur bahsanya enak didengar ketika
menjelaskan. Intonasi suaranya jelas. Ah Leni benar-benar terbuai. So untuk
melampiaskan kesukaanya, Leni sengaja bertanya banyak hal tentang konseling
profetik.
Makin bertambah lipat hatinya, cara
menjawabnya begitu detail, memang pintar sekali. Leni berpikir dua kali untuk
mengumbar skandal Kak Ica, bisa hancur wibawanya bila dilihat sang pembicara.
Namun sesekali hatinya juga berontak. Ia pikir, bukankah ini justru menjadi
dakwah untuk memberi tahu atau tepatnya memberi pelajaran pada Ica bahwa
caranya salah berhubungan dengan seorang pria. Sekalipun Ica adalah sosok
mahasiswi teladan baginya. Jika tidak diumbar sekarang, malah akan menjadi
boomerang baginya, bahwa ia adalah tukang gossip, penyebar berita palsu, tukang
fitnah. “Astaghfirullaaladzim” cetusnya.
Ketika Forsik selesai dan pembicara
izin pamit, Leni menahan teman-temannya untuk tetap duduk di tempat. Ia siapkan
infokus. Sebelumnya ia berdiri di podium, sekedar menjelaskan apa yang akan
dilihat teman-temannya nanti, murni sebagai rasa cintanya pada Kak Ica, sesama
teman dan keluarga besar BPI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Teman-teman yang lain gantian
menyibir Leni, “Ya sudah kamu tunjukkan kalau kamu memang tidak menyebar
berita bohong, karena tidak mungkin seorang Ica melakukan perbuatan nista itu”
sergah Rangga.
“Betul kata Rangga, istighfar
Leni, apa yang kamu katakan akan dicatat oleh Allah” umbar yang lain.
Suasana menjadi tegang, Leni tidak
sendirian ada teman-teman lainnya yang akan mem-backup. “Saya sepakat sama
Leni, lebih baik kita buktikan saja siapa yang benar dan siapa yang salah, ini
kan buat kebaikan BPI juga. Kita akan menarik pelajaran dari ini semua, bahwa
kadang tampilan bisa menipu. Ingat kawan!!” bela Riri, teman detektif Leni
“Astaghfirullah, apa maksud kamu
Riri?” tanya yang lain
“Iya saya juga satu suara sama
Riri, kita berbicara fakta nanatinya, bukan memandang karena Ica adalah
bidadari BPI, teman kesayangan kita semua” seloroh Mahasiswa yang duduk di
samping Riri.
“Sudah.. sudah… langsung saja
Leni kamu putar” Suruh Rangga
Leni tanpa panjang kata mulai
memasukkan CD ke Laptop. Dan gambar yang diceritakkan Leni benar benar
kenyataan.
“Sini aku yang bawa sayang”
“Ah tidak usah, aku aja yang
bawa, kamu langsung aja balik, gak enak nanti dilihat banyak orang”
“Ya sudah malam minggu Ukhti ada
di rumah kan? Aku apel ya?”
“Iya dong say, kan sudah jatah
kamu mulai saat ini?”
“Hmm kita nonton apa Ukh?”
“Ayat-ayat Cinta aja oke?”
“Oke deh..”
Semua orang terperangah, “Masya
Allah” ucap Rangga
“Astaghfirullah” Ketus yang
lain
“Ahhh”
“Ini Gila” Kata Riri
“Imposibble” Ucap Novi
Leni mulai buka suara di rerimbun
gelengan kepala teman-teman. Rangga hanya menunduk malu. Novi menangis,
ternyata Kak Ica yang rajin dakwah.. Ah begitu memalukan. Yang lain pun serupa.
“Jelas kan sekarang” kata
Leni dengan suara lantang
Riri merasa puas. Dia lega kerja
kerasnya bareng Leni membuahkan hasil.
“Ini mesti diproses” Keluh
Novi kesal
“Iya ini sudah memalukan kita
semua. Kita sudah jatuh. Hanya karena seorang pria, tega sekali Kak Ica
menyakiti kita semua. Ia yang tiap hari bicara aturan yang seharusnya antara
pria dan wanita ternyata adalah pembohong, munafik. Hhh aku sudah curiga, tidak
mungkin seorang wanita menahan rasa cintanya pada pria yang dicintainya.
Persetan dengan simpan dalam hati.” Seruput Leni
“Afwan, ikhwan yang itu pacar
saya!!” suara Kak Ica dari balik tembok, begitu keras menghujam keheningan.
Semua mata terperangah ke arah Ica.
“Siapa yang bilang akhwat gak
boleh pacaran?” tantang Ica
Novi yang satu aktivis dakwah dengan
Ica menggelengkan kepala, dan hanya bisa berkata “Kau sudah berubah Ukh,
siapa pria itu? Apa maksud kamu?”
“Iya itu pacar aku Nov” jawab
Ica dengan senyum lebar
Rangga terlihat bingung. Leni tidak
paham.
“Ikhwan yang jadi pembicara tadi
itu pacar saya lho hehehe”
“Hehehe betul, aku jadi saksi kok
jadian mereka. Wong lagi nembaknya, Dela yang mengantar ikhwannya” ucap
Dela yang tiba-tiba muncul
“Mana cowoknya itu? kurang
ajar betul dia” Gertak Novi
“Ini lho pacarnya kak Ica,
kebetulan ini kakak Dela juga” Dela menarik sang ikhwan yang kembali masuk
ke ruangan.
“Pacaran setelah nikah itu asyik
lho. Aku gak takut lagi deket-deket sama si mas. Ini cincin nikah kita.
Sebelumnya saya minta maaf karena belum sempat memberi tahu teman-teman. Saya
tidak mau mengganggu aktivitas kita sekalian yang sebentar lagi UAS dan tengah
sibuk karena penyelenggaraan CRUCIATUS, nah makanya sekarang setelah semuanya
kelar, kita mau mengundang teman-teman sekalian. Ini undangannya, bagus kan??”
Novi langsung memeluk Ica sambil
sesenggukan meneteskan air mata “Maafkan aku teman sejatiku, aku sudah
suudzon padamu, kau yang sangat kubangga sebagai mahasiswa berprestasi di BPI.
Ah subhanallah ternyata kamu sudah menikah Ca, Allah begitu menyangimu wahai
wanita yang baik budinya. Kamu kemana selama ini Ca, kami semua mencemaskanmu?”
“Afwan Nov, aku sedang honeymoon,
gak bisa diganggu. Ini baru pulang dari Gunung Sindur, biasa pengantin baru ada
aja maunya.”
“Ih resek” cubit Novi di pipi
Ica.
“Makanya cepat nikah dong, Si Aa
mau dikemanain teh?” gantian Ica yang menyubit pipi Novi.
“Si Aa siapa?” Novi balik
menginjak kaki Ica.
“Aa Aa A… Ada dehhh” Canda
Ica yang membuat Novi memunculkan senyuman manisnya.
Rangga lega, walau sedikit menyesal
karena telat melamar. Akan tetapi, sebagai pria berpikiran dewasa, ia ikhlas
karena Allah pasti memberi yang terbaik jika hambanya bertakwa. Begitulah Islam
mengajarkan. Semua orang kini menyami Ica dan sang pacar.
Lalu bagaimana nasib Leni? Dengkul
Leni langsung lemas, kemudian ia tergeletak pingsan karena shock. Sang pujaan
ternyata sudah sah menjadi milik Ica. Keburukan dibalas kebaikan, sekarang
giliran Ica yang sibuk mengurusi Leni agar cepat siuman.

